Jakarta - Krisis politik di Mesir berpengaruh langsung terhadap harga minyak dunia. Presiden Direktur PT Trimegah Sekuritas Tbk Omer S. Anwar mengatakan, posisi Mesir sangat penting dalam industri perminyakan dunia. "Ada potensi risiko dan ketidakpastian tinggi di daerah itu yang bisa meningkatkan harga minyak," ujarnya di Jakarta kemarin.
Bukan hanya sebagai salah satu produsen penting, kata bekas Wakil Direktur Pertamina itu, gejolak di negara itu membuat jalur perdagangan minyak antara Timur Tengah dan Eropa terganggu. Maklum, wilayah Mesir mengapit Terusan Suez yang merupakan jalur utama transportasi emas hitam dari Teluk Arab.
Kontrak utama New York, minyak mentah jenis Light Sweet pengiriman Maret, naik US$ 37 sen ke posisi US$ 89,71 per barel pada perdagangan kemarin pagi waktu setempat. Sedangkan jenis Brent naik US$ 18 sen menjadi US$ 99,60 per barel.
Omer mengatakan, ketidakpastian politik di kawasan tersebut memberikan sentimen negatif ke pasar. Risiko yang meningkat membuat biaya asuransi meningkat, terutama adanya kekhawatiran jika Terusan Suez ditutup.
Indonesia jelas terpengaruh karena impor minyak juga besar. Terkereknya harga minyak akan merembet pada naiknya harga bahan kebutuhan pokok. "Akibatnya, inflasi akan meningkat. APBN akan membengkak untuk membiayai subsidi bahan bakar," kata dia.
Kondisi ini menyebabkan pelaku pasar lebih berhati-hati. Terutama perusahaan yang akan menerbitkan saham perdana maupun surat utang. "Sebagian besar mereka masih wait and see sebelum melakukan aksi-aksi penggalangan dana," kata dia.
Direktur Legg Mason Asset Management Evan Lim optimistis pengaruh krisis Mesir terhadap Indonesia tak akan berlangsung lama. "Indonesia dan Mesir tak banyak punya korelasi. Meski ada sentimen negatif, tak akan berlangsung lama," kata Evan.
Menurut dia, pasar finansial Indonesia memiliki daya tahan kuat dan telah terbukti sepanjang krisis 2008. Investor merasa sangat nyaman menanamkan uangnya di Indonesia, yang memiliki pertumbuhan yang termasuk tertinggi di Asia.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, pemerintah mewaspadai potensi kenaikan harga minyak dunia. "Saya kira tidak ada negara yang menginginkan harga tinggi ketika ekonomi dalam keadaan sulit di dunia," ujar Hatta di kantor kemarin.
Jika kenaikan harga minyak terlalu tinggi, ia menambahkan, akan berdampak besar terhadap perekonomian domestik. Produksi manufaktur yang sedang tumbuh akan kembali mengerem aktivitasnya.
Pemerintah akan berupaya menjaga pasokan dan permintaan minyak dalam negeri. Produksi minyak nasional digenjot dibarengi dengan penghematan konsumsi dan diversifikasi energi.
Ia juga meminta pelaku ekonomi tetap tenang. "Saya yakin dengan OPEC, dengan meningkatkan produksi, maka mereka akan menjaga kestabilan suplai dan permintaan," katanya. (
TEMPO Interaktif, Jakarta - Krisis politik di Mesir berpengaruh langsung terhadap harga minyak dunia. Presiden Direktur PT Trimegah Sekuritas Tbk Omer S. Anwar mengatakan, posisi Mesir sangat penting dalam industri perminyakan dunia. "Ada potensi risiko dan ketidakpastian tinggi di daerah itu yang bisa meningkatkan harga minyak," ujarnya di Jakarta kemarin.
Bukan hanya sebagai salah satu produsen penting, kata bekas Wakil Direktur Pertamina itu, gejolak di negara itu membuat jalur perdagangan minyak antara Timur Tengah dan Eropa terganggu. Maklum, wilayah Mesir mengapit Terusan Suez yang merupakan jalur utama transportasi emas hitam dari Teluk Arab.
Kontrak utama New York, minyak mentah jenis Light Sweet pengiriman Maret, naik US$ 37 sen ke posisi US$ 89,71 per barel pada perdagangan kemarin pagi waktu setempat. Sedangkan jenis Brent naik US$ 18 sen menjadi US$ 99,60 per barel.
Omer mengatakan, ketidakpastian politik di kawasan tersebut memberikan sentimen negatif ke pasar. Risiko yang meningkat membuat biaya asuransi meningkat, terutama adanya kekhawatiran jika Terusan Suez ditutup.
Indonesia jelas terpengaruh karena impor minyak juga besar. Terkereknya harga minyak akan merembet pada naiknya harga bahan kebutuhan pokok. "Akibatnya, inflasi akan meningkat. APBN akan membengkak untuk membiayai subsidi bahan bakar," kata dia.
Kondisi ini menyebabkan pelaku pasar lebih berhati-hati. Terutama perusahaan yang akan menerbitkan saham perdana maupun surat utang. "Sebagian besar mereka masih wait and see sebelum melakukan aksi-aksi penggalangan dana," kata dia.
Direktur Legg Mason Asset Management Evan Lim optimistis pengaruh krisis Mesir terhadap Indonesia tak akan berlangsung lama. "Indonesia dan Mesir tak banyak punya korelasi. Meski ada sentimen negatif, tak akan berlangsung lama," kata Evan.
Menurut dia, pasar finansial Indonesia memiliki daya tahan kuat dan telah terbukti sepanjang krisis 2008. Investor merasa sangat nyaman menanamkan uangnya di Indonesia, yang memiliki pertumbuhan yang termasuk tertinggi di Asia.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, pemerintah mewaspadai potensi kenaikan harga minyak dunia. "Saya kira tidak ada negara yang menginginkan harga tinggi ketika ekonomi dalam keadaan sulit di dunia," ujar Hatta di kantor kemarin.
Jika kenaikan harga minyak terlalu tinggi, ia menambahkan, akan berdampak besar terhadap perekonomian domestik. Produksi manufaktur yang sedang tumbuh akan kembali mengerem aktivitasnya.
Pemerintah akan berupaya menjaga pasokan dan permintaan minyak dalam negeri. Produksi minyak nasional digenjot dibarengi dengan penghematan konsumsi dan diversifikasi energi.
Ia juga meminta pelaku ekonomi tetap tenang. "Saya yakin dengan OPEC, dengan meningkatkan produksi, maka mereka akan menjaga kestabilan suplai dan permintaan," katanya. (Tempointeraktif.com)


Posting Komentar