Headlines News :
Home » » Membangun Pusat Biodiversitas Terbesar di Asia Tenggara

Membangun Pusat Biodiversitas Terbesar di Asia Tenggara

Written By KrokotNews on Rabu, 30 Maret 2011 | 06.00

Salah satu kawasan taman nasional yang akan direhabilitasi adalah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Bukan sekadar direhabilitasi, malah. Taman nasional lintas batas Jawa Barat-Banten itu bahkan akan dijadikan pusat biodiversitas terbesar di Asia Tenggara.
TNGHS memang habis-habisan dirambah. Bukan untuk pertambangan atau perkebunan, melainkan untuk dibangun vila mewah milik penggede asal Jakarta. Kemenhut bereaksi cepat dan secara bertahap berhasil menuntaskan kasus perambahan tersebut.
Kini, Kemenhut cq. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) menatap jauh ke depan untuk menjadikan TNGHS sebagai pusat keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar di Asia. Rencana besar tersebut diperkirakan akan menelan biaya Rp15 triliun. Untuk itu, pihak swasta digandeng guna menjalankan misi tersebut.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengungkapkan, untuk membangun kawasan hutan hujan pegunungan terluas di Jawa Barat itu dibutuhkan biaya sebesar Rp15 juta/hektare (ha). Artinya, jika dipukul rata untuk sekitar 100.000 ha kawasan hutan yang ada, dibutuhkan biaya sebesar Rp15 triliun.
Sekadar informasi, Taman Nasional Gunung Halimun luasnya mencapai 113.357 ha. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air bagi lebih dari 115 sungai di daerah aliran sungai (DAS) Ciberang dan Cisadane.
Menhut mengakui, kawasan TNGHS mengalami degradasi dan perambahan yang cukup luas dan tersebar di 106 desa. Padahal, kawasan TNGHS merupakan kawasan penting dan menjadi hulu sungai yang mengalir ke Jakarta, Bogor, Tanggerang dan daerah sekitar.
Zulkifli juga mengakui, dana yang dimiliki pemerintah tidak cukup untuk mewujudkan rencana tersebut. Karena itu, dia berharap bantuan dari para pemangku kepentingan. “Bisa dari mana-mana, misalnya bantuan perusahaan-perusahaan berupa penananaman pohon,” ujarnya.
Mengenai anggaran, Menhut mengatakan akan mengalokasikan dana APBN 2011 untuk membangun pusat keanekaregaman hayati ini. “Saya usahakan pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp50 miliar untuk penanaman dan pemeliharaan di TNGHS,” katanya.
Meski dana pemerintah minim, seiring dengan makin meningkatnya minat BUMN dan perusahaan swasta untuk turut mengelola hutan, maka persoalan pendanaan diharapkan bisa terpecahkan.
“Banyak swasta dan BUMN tertarik untuk terlibat di dalamnya. Kita harus sambut baik. Salah satunya ANTAM, yang bersedia membantu membangun pusat konservasi sumber daya hayati ini,” katanya. Perusahaan tambang BUMN tersebut memang sudah bekerjasama dengan Kemenhut untuk merehabilitasi TNGHS.
Menurutnya, ada empat konsep melakukan rehabilitasi. Pertama, menjadikan kawasan TNGHS sebagai center of excellent alias menciptakan pusat biodiversitas dengan keanekaragaman hayati, seperti flora dan fauna.
Kedua, pengembangan obyek dan daya tarik wisata (ekowisata), pusat pendidikan lingkungan dan pusat pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi. “TNGHS juga akan menjadi pusat pohon asli, pusat pembibitan, dan pusat penelitian,” katanya.
Menurut rencana, Kemenhut akan mulai membangun pusat konservasi hayati tahun 2011. Menhut mengaku, pembangunan pusat sumber hayati ini akan memakan waktu yang lama sehingga tidak dapat dinikmati langsung. “Kita akan bisa melihat hasilnya dalam 10 tahun ke depan untuk anak cucu kita,” katanya.
Penertiban villa
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kemenhut, Darori menegaskan, pihaknya akan terus mentertibkan villa liar yang ada di kawasan tersebut.
Sebagai bagian dari penataan TNGHS, Kemenhut saat ini juga sedang menyusun zonasi yang membagi TNGHS sesuai dengan peruntukannya. Nantinya bakal ada zona inti, zona rimba penyangga inti, dan zona pemanfaatan.
Pembagian zonasi tersebut, jelas Darori, tak lepas dari potensi pemanfaatan kawasan tersebut, baik oleh wisatawan maupun oleh masyarakat setempat. Saat ini, jumlah penduduk di dalam dan sekitar kawasan TNGHS diperkirakan lebih dari 250.000 jiwa.
Di kawasan itu terdapat villa sebanyak 143 unit dan bangunan lainnya berupa tempat tinggal sebanyak 67 unit. Semakin rumitnya masalah TNGHS adalah sudah banyaknya areal pemukiman, tempat sosial dan tempat wisata di areal TNGHS yang termasuk dalam hutan lindung.
Dari data kehutanan, terdapat TK dan SD (2 unit) tempat ibadah (7 unit), pemakaman umum (4 lokasi), areal persawahan (30 ha), ladang (55 ha) sarana wisata seperti pemandian air panas, kolam renang dan trekking, bahkan terdapat pusat komando latihan tempur militer infanteri kodam jaya (17 ha).
Menurut Darori, adanya zonasi dapat memberi kepastian bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas di zona pemanfaatan, zona khusus dan zona penyangga. “Seperti pengembangan kampung-kampung yang berorientasi konservasi dengan mengadakan berbagai aktivitas konservasi seperti penanaman pohon-pohon asli yang bermanfaat, energi alternatif, ekowisata dan program ekonomi berkelanjutan. Dalam jangka pendek, aktivitas di atas dapat membantu masyarakat untuk menjalankan kehidupannya tanpa menyebabkan kerusakan hutan,” katanya.
Kepala Balai TNGHS, Istanto menambahkan, taman nasional ini mempunyai 3 spesies hewan utama khas, di antaranya Owa Jawa, Macan Tutul, dan Elang Jawa. “Ketiga binatang ini hanya terdapat di pulau Jawa, terutama Elang Jawa, yang menjadi top predator untuk keseimbangan ekosistem,” katanya.
Istanto mengatakan, selain ANTAM nantinya banyak pengusaha swasta yang diajak terlibat untuk membangun TNGHS menjadi pusat biodiversitas, salah satunya Chevron. Menurutnya, perusahaan yang bergerak di bidang gas alam ini sudah menyetujui untuk ikut membangun TNGHS. “Mereka sudah setuju, mungkin mulai tahun 2011 juga,” katanya.
Dalam sejarahnya, kawasan cagar alam Gunung Halimun ditunjuk sebagai Taman Nasional berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 ha.
Kemudian kawasan Hutan Salak, Gunung Endut dan kawasan di sekitarnya yang berfungsi sebagai hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani III seluas 73.375 ha diubah fungsi dan ditunjuk menjadi bagian dari perluasan TNGH melalui Kepmen Kehutanan Nomor 175/Kpts-II/2003 menjadi seluas 113.375 ha. “Dengan demikian, hampir 64,7% kawasan TN Gunung Halimun adalah eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas,” kata dia.
Berdasarkan sejarahnya, kawasan ini pernah merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus). Badak Jawa merupakan jenis langka dan dilindungi, sedangkan Harimau Jawa sekarang diduga sudah punah.
Di kawasan TNGHS telah diketahui terdapat jenis mamalia sebanyak 61 jenis, di mana terdapat jenis-jenis yang endemik Pulau Jawa dan jenis-jenis terancam punah. Jenis-jenis terancam punah yang masih dapat dijumpai pada saat ini, antara lain Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung (Trachypithecus auratus), Ajag atau Anjing Hutan (Cuon alpinus javanicus) dan Sigung (Mydaus javanensis).
Sementara untuk tumbuhan, diperkirakan lebih dari 1.000 jenis tumbuhan terdapat di kawasan TNGHS. Tumbuhan yang terdapat di sana didominasi oleh pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang diameternya mencapai 1,5 m pada zona colline, yaitu zona dengan pada ketinggian 500 – 1.000 meter dari permukaan laut. Kemudian pada zona sub-montana, pada ketinggian 1.000 – 1.500 mdpl, didominasi oleh pohon Puspa (Schima wallichii) dan beberapa jenis Fagaceae.
Sedang zona montana, pada ketinggian 1.500 – 2.211 mdpl, didominasi oleh Fagaceae, antara lain: Castanopsis spp., Lithocarpus spp., dan Quercus spp.
Kantung Semar (Nepenthes spp.) dan Palahlar (Dipterocarpus hasseltii) merupakan jenis tumbuhan unik dan langka yang terdapat di TNGHS. Khusus di Gunung Salak juga terdapat vegetasi kawah. Selain itu juga tercatat anggrek (261 jenis), bambu (12 jenis), rotan (13 jenis), dan berbagai jenis tanaman pangan, hias dan tanaman obat.  AI (sumber : agroindonesia)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Krokotnews - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger