Jakarta - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menegaskan permasalahan stok beras impor dari Thailand bukanlah karena masalah banjir berkepanjangan yang melanda negeri 1000 Pagoda tersebut melainkan karena adanya ketidakcocokan penawaran harga untuk impor 300 ribu ton beras.
"Jadi itu bukan karena banjir, waktu kita tawar-menawar harganya terlalu murah menurut Thailand. Dulu itu kan memang sesuai perkembangan pasar," ujar Dirut Perum Bulog, Sutarto Alimoeso kepada detikFinance, Minggu (30/10/2011).
Sutarto menyatakan pihak Thailand mengaku masih memiliki stok beras untuk diekspor. Oleh karena itu, kontrak sebelumnya yang sebesar 150 ribu ton beras masih dapat dikirim ke Indonesia.
"Kontrak 150 ribu ton sudah masuk. Itu kontrak B to B, dan itu sudah mulai masuk. Kalau yang 300 ribu ton, dia masih janji akan bicarakan intensif oleh duta besar kita," ujarnya.
Sutarto menambahkan komitmen ekspor beras dari Thailand tidak terganggu, meskipun perlu diakui produksi beras cukup terganggu karena iklim yang tidak bersahabat.
"Produksi tahun 2011 memang terganggu, tapi ekspornya tidak terpengaruh untuk tahun ini, dia (Dirjen Kementerian Perdagangan Thailand) mengatakan masih punya stok yang akan diekpor, kemungkinan banjir ini pengaruhnya untuk ekspor 2012," ujar Sutarto.
Sampai saat ini, lanjut Sutarto, dari izin impor beras yang dikeluarkan pemerintah untuk tahun ini yaitu sebesar 1,6 juta ton, 1,35 juta ton sudah kontrak. Sementara sisanya, sekitar 300 ribu ton, ditutupi oleh impor beras dari Vietnam.
"Ada 1,350 juta kontrak, masuknya itu tergantung pelabuhan. Kalau 1 bulan 300-400 ribu itu sudah cukup. Sebenarnya impor kita sudah cukup, yang 300 itu dari Vietnam dan akan masuk November ini, tapi tergantung pelabuhannya juga," pungkasnya
Sebelumnya, karena Thailand dilanda banjir berkepanjangan, Pemerintah Indonesia tengah mencari alternatif guna memenuhi stok beras negara. Salah satu alternatif yang tengah dikaji adalah melakukan impor beras dengan India.


Posting Komentar