Headlines News :
Home » , » KUNGKUM TIRAKAT di Kali, Perdes Plumbungan Tewas

KUNGKUM TIRAKAT di Kali, Perdes Plumbungan Tewas

Written By KrokotNews on Sabtu, 16 Juni 2012 | 06.04

Suasana duka masih menyelimuti rumah Sutrisno. Prosesi pemakaman jenazahnya baru usai beberapa menit yang lalu. Sutrisno adalah Kaur Pemerintahan di Desa Plumbungan yang tewas saat tirakat di pertemuan Sungai Bekasar di wilayah Kecamatan Sambirejo, Jumat dini hari.
Seorang laki-laki berperawakan kecil dengan tinggi sekitar 150 cm keluar dari dalam rumah. Sapto Supriyadi, 15, demikian nama pria yang masih duduk di bangku Kelas I SMK Binawiyata Sragen. “Ada apa pak? Maaf ibu sedang salat,” ujar Sapto menyapa Solopos.com yang bertandang ke rumahnya.
Dua orang adiknya, Siti Rohmah, 12, ikut duduk jongkok di depan pintu. Adik Sapto yang paling bungsu, Rizky, 10, juga ikut menemani kakaknya dengan duduk beralas tanah dengan kepala bersandar pilar kecil. Sapto mulai mengisahkan nasib nahas yang menimpa ayahandanya.
“Saya dan ayah berangkat ke Sambirejo pukul 24.00 WIB. Tadi malam merupakan malam Jumat Kliwon di bulan Rajab ini. Kami berangkat mengendarai motor Yamaha Yupiter Z (berpelat nomor AD 6515 TY-red). Kami sudah biasa kungkum tirakat di tempat itu. Biasanya pada malam satu Sura. Saya tak merasakan hal aneh ketika hendak berangkat. Tapi memang bapak agak masuk angin sebelum berangkat,” akunya.
Sapto semula sempat ikut kungkum di pertemuan anak sungai dengan Sungai Bekasar. Mereka kungkum di tempat itu dalam kondisi telanjang. Satu jam berlalu, sekitar pukul 01.00 WIB, Sapto pun naik ke daratan karena tak kuat dingin. Dia hanya menunggui ayahnya di pinggir kali sisi timur sembari mengawasi ayahnya. Sekitar pukul 04.00 WIB, Sapto kaget karena tak melihat ayahnya lagi. Dia berusaha mencari ayahnya dengan menyebut-nyebut nama ayahnya.
“Semalaman saya tidak tidur. Saat saya tak melihat bapak, saya mencarinya seraya menyeru namanya. Sekitar lima menit, saya berhasil menemukan ayah dalam kondisi terkapar di dalam air. Saya membawanya ke tepian. Saat itu tubuh bapak dingin dan tidak bernafas. Saya langsung berteriak minta tolong,” kisahnya.
Mendengar cerita itu, Siti dan Rizky hanya terdiam. Matanya kemerah-merahan. Bibirnya bergerak-gerak seperti menahan tangis. Tangan Siti sibuk membuat lingkaran dengan jari-jarinya di tanah. Sedangkan Rizky terdiam dengan mendekap tiang penyangga atap teras.
Sekitar pukul 04.30 WIB, seorang warga datang ke lokasi. Setelah melihat tubuh korban, orang itu pun segera berlari ke kampung untuk meminta bantuan warga lainnya. Sejumlah orang memenuhi pinggir Sungai Bekasar dalam waktu singkat. Mereka tak berani mengevakuasi korban. Mereka memilih menghubungi aparat Polsek Sambirejo.
Beberapa saat berlalu, tim Polsek Sambirejo dan tim medis Puskesmas Sambirejo datang ke lokasi. Jenazah korban dievakuasi dan dibawa ke puskesmas untuk divisum. “Hasil pemeriksaan dokter puskesmas dan unit identifikasi Polres Sragen tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dari riwayat sebelumnya, korban mengeluh sakit pada dada dan sesak napas. Korban meninggal dunia diduga karena hipotermia atau kedingian dan gangguan fungsi jantung,” ujar Kapolsek Sambirejo, AKP Hariyanto, mewakili Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi.
Korban pun akhirnya diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. (dilansir dari solopos.com)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Krokotnews - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger