Pembebasan bea masuk kedelai yang akan berlaku pada bulan Agustus hanya berlangsung sampai Desember 2012. Pemerintah bisa sewaktu-waktu mencabut jika kebijakan itu tidak efektif.
"Kalau memang tidak ada dampaknya, kenapa terus dipertahankan," kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan saat menilik operasi pasar Perum Bulog di Pasar Wonokromo, Surabaya, Sabtu 28 Juli 2012.
Menurutnya, kebijakan pembebasan BM komoditas kedelai tidak selamanya diberlakukan. Sebab, bea masuk nol persen untuk kedelai impor itu diputuskan sampai akhir Desember 2012.
"Penghapusan bea masuk itu hanya untuk sementara. Kalau memang tidak ada pengaruh pada harga pasar, kenapa diteruskan," ujarnya.
Rusman menjelaskan kebijakan pembebasan bea masuk kedelai secara sementara itu bisa membawa dampak terhadap perajin tahu dan tempe. Penurunan itu diharapkan bisa mengimbangi dampak kenaikan harga kedelai di pasar. Pemerintah akan tetap mengevaluasi kebijakan itu secara periodik.
"Kami tetap akan mengevaluasi kebijakan secara periodik. Bisa mungkin, sebelum waktunya itu bisa dicabut kalau memang tidak efektif," Rusman menambahkan.
Kebijakan pembebasan bea masuk itu bisa menurunkan harga kedelai impor sekitar 5 persen. Jika di pasar harga kedelai Rp8.000 per kilo gram, kata Rusman, dengan penurunan bea impor itu harga kedelai bisa mencapai Rp7.600. "Minimal ada penurunan sekitar Rp400 per kilogram," ujarnya.
Menurutnya penghapusan bea masuk itu tidak membawa dampak negatif bagi petani lokal, karena tingginya harga kedelai sebenarnya masih menguntungkan petani. Kebijakan itu juga dapat meringankan konsumen karena diharapkan harga kedelai turun yang berdampak turunnya bahan pangan kedelai. (viva.co.id/28/07/2012)


Posting Komentar