Jakarta - Di 2011 lalu, jumlah subsidi listrik mencapai
Rp 93 triliun, atau di atas target awal Rp 45 triliun. Padahal di
2000-2004, subsidi listrik masih berkisar Rp 3,5 triliun. Pemerintah
tekor.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, masih ada
mal-mal mewah dan industri-industri besar yang masih menikmati subsidi
listrik. Subsidi listrik tinggi karena harga jual listrik PLN saat ini
di bawah biaya produksi listriknya.
"Tarif itu bisa menjadi
sorotan. Karena Indonesia bisa dikatakan sejak 2004 tidak pernah
menyesuaikan tarif dan yang kita kaji itu ternyata di sistem harga tarif
PLN itu hampir semua itu memperoleh subsidi," kata Agus di kantornya,
Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Agus menyatakan,
pemerintah ingin tarif listrik bisa dilakukan secara berkala setiap 3
bulan sesuai dengan kondisi yang ada. "Ini pernah dilakukan di 1993-1996
di mana kita melakukan penyesuaian tarif secara berkala dan masyarakat
bisa menerima," jelas Agus.
Dikatakan mantan Dirut Bank Mandiri
ini, subsidi listrik harus ditekan karena pemerintah juga memerlukan
investasi yang besar untuk membangun infrastruktur listrik di Indonesia,
sehingga banyak daerah-daerah yang bisa menikmati listrik.
"Ada
50 lebih Industri bisnis juga ada banyak sekali bisnis, termasuk mal-mal
yang mewah-mewah menikmati subsidi. Jadi ini yang kita harus lakukan
penyesuaian tetap menjadi komposisi daripada listrik kita tapi ini harus
disehatkan," tegas Agus.
Agus menyatakan telah berdikusi dengan
PLN, dan berbagai kementerian/lembaga untuk mendukung investasi
kelistrikan, dan muncul 12 langkah. Salah satunya adalah penyesuaian
tarif listrik secara berkala. (detik/19/07/2012)
Pemerintah Tekor Karena Ada Mal Mewah dan Industri Nikmati Subsidi Listrik
Written By KrokotNews on Jumat, 20 Juli 2012 | 04.24
Label:
keuangan


Posting Komentar