SRAGEN--Musim kemarau yang telah berlangsung
beberapa bulan terakhir membuat sumur warga Ngemban Padas, Gemolong
kering. Ditambah lagi, tidak adanya aliran air dari PDAM memaksa
sebagian warga membeli air untuk keperluan sehari-hari.
Seorang warga RT 011, Ngemban Padas, Sutarno, 40, mengatakan dirinya
sudah tidak dapat mengambil air dari sumurnya meski sudah disedot
menggunakan mesin penyedot air. “Debit air sudah turun sejak Puasa dan
puncaknya hari ini sumur saya benar-benar tidak dapat mengeluarkan air,”
terang Sutarno kepada Solopos.com, Senin (27/8/2012).
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Sutarno meminta kepada tetangga
yang masih memiliki sedikit cadangan air. Sedangkan untuk memasak dan
air minum, dia tidak berani menggunakan air sumur karena kandungan
kapurnya terlalu banyak. Biasanya dirinya membeli air mineral isi ulang
sebagai air minum. “Menurut pengamatan saya, sumur di rumah-rumah
menjadi kering karena warga banyak mengambil air tanah untuk pengairan
sawah yang saat ini ditanami padi,” tambah tukang reparasi televisi
tersebut.
Warga RT 013, Ngamban Padas, Marhatun, 50, mengaku juga kehabisan air
bersih untuk keperluan sehari-hari sejak sebulan terakhir. Ia akhirnya
meminta tetangga yang masih memiliki persediaan. “Untuk memasak dan air
minum, sepekan saya membeli enam jeriken isi 30 liter. Satu jeriken saya
beli dengan harga Rp3.000. Jadi totalnya saya menghabiskan uang
Rp18.000 per pekan,” terang Marhatun di rumahnya.
Marhatun bersyukur karena ia masih mampu membeli air untuk
keperluannya. Pemilik setengah hektare sawah yang ditanami padi ini juga
mengaku air di sawahnya mulai menyusut sehingga ia harus sering-sering
menggali sumur agar airnya keluar.
Hal yang sama dialami Rumini, 27, yang berdekatan dengan rumah
Sutarno. Air sumur miliknya telah habis sejak dua minggu lalu. Selama
ini ia juga mengandalkan sumur milik warga lain yang masih dapat diambil
airnya. Tahun lalu, air di sumurnya masih tersisa sedikt saat kemarau
tiba. Tetapi kondisinya, menurutnya, terlalu keruh untuk keperluan masak
dan minum. Air itu dulu hanya digunakannya untuk mencuci tangan dan
kaki saja.
Ia berharap agar pemerintah Kabupaten Sragen bersedia mengirim air
gratis untuknya dan warga lain yang kekurangan air di daerahnya. “Selama
lima tahun saya tinggal di sini, belum pernah ada bantuan pemerintah
saat kemarau tiba. Saya berharap tahun ini pemerintah mengirim air
bersih kemari,” tandas Rumini.
KEKERINGAN, Warga Padas Terpaksa Membeli Air Bersih
Written By KrokotNews on Selasa, 28 Agustus 2012 | 04.42
Label:
sragen


Posting Komentar